BUBUT SULAWESI (<\/strong>Centropus celebensis)<\/em><\/p>\n\n Nama Inggris: Bay Coucal<\/strong><\/p>\n\n Endemik Sulawesi - Status: resiko rendah (LC)<\/p>\n\n Deskripsi<\/strong><\/p>\n\n Bubut sulawesi termasuk dalam keluarga Cuculidae<\/em>. Mereka sangat mudah dikenali di dalam hutan. Tubuhnya besar dengan ekor panjang. Panjang badan sampai ekor dapat mencapai setengah meter. Warna tubuhnya coklat muda sampai coklat tua, dengan paruh yang terlihat kokoh. Tidak ada perbedaan antara individu jantan dan betina. Di hutan, suara bubut Sulawesi sangat khas, dengan deguman yang menggema.<\/p>\n\n Persebaran dan populasi<\/strong><\/p>\n\n Bubut sulawesi endemik Sulawesi sampai ke beberapa pulau satelitnya. Tidak ada informasi mengenai besar populasinya. Di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, jenis ini umum, tersebar merata, dan cukup mudah dijumpai di semua tipe habitat di dalam kawasan.<\/p>\n\n Habitat dan ekologi<\/strong><\/p>\n\n Bubut sulawesi biasa terlihat di cabang-cabang pohon dan semak yang rendah sampai sedang. Mereka jarang terlihat terbang, kecuali berpindah antar pohon dan dahan. Walaupun sering terlihat di area terbuka seperti kebun-kebun di pinggir hutan, karena memudahkan mereka berburu serangga. Mereka juga biasa hidup di hutan sekunder sampai hutan-hutan primer sampai ketinggian sekitar 1.100 mdpl. Mereka biasa terlihat dalam kelompok kecil 2-5 ekor. Kadangkala juga berkumpul bersama burung-burung insektivora besar seperti kadalan sulawesi, srigunting jambul-rambut, dan juga jenis-jenis kepudang-sungu, sama-sama berburu serangga besar dan laba-laba.<\/p>\n\n Ancaman<\/strong><\/p>\n\n Secara global, bubut sulawesi termasuk dalam kategori resiko rendah (LC – Least Concern<\/em>). Tidak ada kasus terlaporkan jenis ini menjadi obyek perburuan, khususnya di dalam dan sekitar kawasan TN Bogani Nani Wartabone. Secara ekologi, tentu jenis ini penting karena merupakan salah satu pengendali serangga dalam ekosistem hutan dan sekitarnya.<\/p>\n\n Upaya konservasi<\/strong><\/p>\n\n Bubut sulawesi tidak termasuk jenis yang dilindungi secara nasional berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya pada P106\/2018. Namun demikian, keberadaan hutan-hutan di Sulawesi yang masih terjaga baik seperti di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, sangat penting untuk membantu menjaga populasi mereka.<\/p>\n\n <\/p>\n\n Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n Foto : Resort Pinogaluman<\/p>\n\n Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n <\/p>\n\n Sumber: Coates & Bishop (1997); https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/22684303\/25379634<\/p>\n\n <\/p>\n\n Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg14bg07bg54bg50bg13bg0.jpg","folder":"20200414075450","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-14 07:54:50"},{"idartikel":"KEU180012020041408023414","judulartikel":"CABAI PANGGUL-KUNING","isiartikel":" CABAI PANGGUL-KUNING (<\/strong>Dicaeum aureolimbatum)<\/em><\/p>\n\n Nama Inggris: Yellow-side Flowerpecker<\/strong><\/p>\n\n Endemik Sulawesi - Status: resiko rendah (LC)<\/p>\n\n Deskripsi<\/strong><\/p>\n\n Cabai panggul-kuning merupakan burung berukuran cukup kecil, sekitar 8,5 cm. Mudah dikenali dari kedua sisi perutnya yang kuning menyala, kontras dengan dada dan perutnya yang putih atau sedikit abu-abu. Tidak ada perbedaan antara individu jantan dan betina.<\/p>\n\n Persebaran dan populasi<\/strong><\/p>\n\n Cabai panggul-kuning hanya tersebar di Sulawesi sampai ke beberapa pulau satelitnya. Tidak ada informasi mengenai besar populasinya, namun diperkirana cukup stabil. Di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, jenis ini umum, tersebar merata, dan cukup mudah dijumpai di semua tipe habitat di dalam kawasan.<\/p>\n\n Habitat dan ekologi<\/strong><\/p>\n\n Cabai panggul-kuning termasuk mudah beradaptasi. Mereka mudah dijumpai di kebun-kebun pinggir hutan, sekitar permukiman bahkan perkotaan, hutan sekunder, dan hutan primer sampai ketinggian 1.140 mdpl. Mereka berkelompok, namun biasanya tidak lebih dari 10 ekor, berlompatan di dahan-dahan pendek pohon maupun perdu. Sering berkumpul bersama burung-burung insektivora untuk berburu serangga atau laba-laba kecil. Mereka juga memakan buah-buahan kecil dari semak mapun perdu dan juga buah-buah beringin (Ficus<\/em> spp.) yang berukuran kecil.<\/p>\n\n Ancaman<\/strong><\/p>\n\n Secara global, cabai panggul-kuning termasuk dalam kategori resiko rendah (LC – Least Concern<\/em>). Kemampuan adaptasi mereka cukup membantu jenis ini berkembang baik. Tidak ada kasus terlaporkan jenis ini menjadi obyek perburuan, khususnya di dalam dan sekitar kawasan TN Bogani Nani Wartabone. Secara ekologi, tentu jenis ini penting karena merupakan salah satu pengendali serangga dan penyebar berbagai tumbuhan dalam ekosistem hutan dan sekitarnya.<\/p>\n\n Upaya konservasi<\/strong><\/p>\n\n Cabai panggul-kuning tidak termasuk jenis yang dilindungi secara nasional berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya pada P106\/2018. Namun demikian, keberadaan hutan-hutan di Sulawesi yang masih terjaga baik seperti di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, sangat penting untuk membantu menjaga populasi mereka.<\/p>\n\n <\/p>\n\n Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n Foto : Resort Pinogaluman<\/p>\n\n Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n <\/p>\n\n Sumber: Coates & Bishop (1997); https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/22717494\/40664549<\/p>\n\n <\/p>\n\n Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg14bg08bg02bg34bg14bg0.jpg","folder":"20200414080234","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-14 08:02:38"},{"idartikel":"KEU180012020042006410615","judulartikel":"CELEPUK SULAWESI","isiartikel":" CELEPUK SULAWESI (<\/strong>Otus manadesnis)<\/em><\/p>\n\n Nama lokal: manguni<\/p>\n\n Nama Inggris: Sulawesi Scops-owl<\/strong><\/p>\n\n Endemik Sulawesi - Status: resiko rendah (LC)<\/p>\n\n Deskripsi<\/strong><\/p>\n\n Celepuk sulawesi merupakan satu-satunya genus Otus<\/em> dalam suku Strigidae<\/em> di Pulau Sulawesi. Sebagai burung malam, mereka sangat mudah dikenali. Bentuknya mungil, panjangnya hanya sekitar 21 cm. Tubuhnya coklat bertabur spot hitam dan abu di berbagai sisi. Jika terlihat siang hari, biasanya bulu di kedua sisi kepala atasnya akan terangkat waspada, membentuk seperti tanduk atau telinga. Ketika malam tiba, suara siulannya sangat khas, saling bersahutan antar pasangan.<\/p>\n\n Persebaran dan populasi<\/strong><\/p>\n\n Celepuk sulawesi termasuk endemik Sulawesi dan beberapa pulau satelitnya. Namun beberapa pulau satelit Sulawesi lain, juga sudah dinyatakan memiliki jenis celepuk yang terpisah atau berbeda jenis dari yang ada di pulau utama, Sulawesi. Tidak ada informasi mengenai besar populasinya, walaupun dinyatakan bahwa populasi jenis ini stabil. Di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, jenis ini umum, tersebar merata, dan cukup mudah terdengar di malam hari di semua tipe habitat di dalam kawasan.<\/p>\n\n Habitat dan ekologi<\/strong><\/p>\n\n Celepuk sulawesi lebih mudah terdengar daripada terlihat. Mereka dapat terdengar di permukiman jika cukup banyak pepohonan, kebun-kebun, hutan sekunder, sampai hutan primer di pegunungan sampai ketinggian 2.500 mdpl. Biasanya mereka bersuara di pohon-pohon tinggi sampai rendah, atau terlihat di cabang-cabang pohon kering. Aktif malam hari (nokturnal), mereka berburu serangga-serangga besar maupun invertebrata kecil lain. Mereka biasa terdengar sendiri atau berpasangan.<\/p>\n\n Ancaman<\/strong><\/p>\n\n Secara global, celepuk sulawesi termasuk dalam kategori resiko rendah (LC – Least Concern<\/em>). Tidak ada kasus terlaporkan jenis ini menjadi obyek perburuan, khususnya di dalam dan sekitar kawasan TN Bogani Nani Wartabone, walaupun kadang-kadang tertangkap jaring para pemburu kelelawar. Secara ekologi, tentu jenis ini penting karena merupakan salah satu pengendali serangga dalam ekosistem hutan dan sekitarnya.<\/p>\n\n Upaya konservasi<\/strong><\/p>\n\n Celepuk sulawesi tidak termasuk jenis yang dilindungi secara nasional berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya pada P106\/2018. Namun demikian, keberadaan hutan-hutan yang masih terjaga baik di Sulawesi, seperti di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, sangat penting untuk membantu menjaga populasi mereka.<\/p>\n\n <\/p>\n\n Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n Foto : Max Welly Lela<\/p>\n\n Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n <\/p>\n\n Sumber: Coates & Bishop (1997); https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/62290590\/95195305<\/p>\n\n <\/p>\n\n Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg20bg06bg41bg06bg15bg0.jpg","folder":"20200420064106","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-20 06:41:06"},{"idartikel":"KEU180012020042010275416","judulartikel":"ELANG-ALAP KEPALA-KELABU","isiartikel":" ELANG-ALAP KEPALA-KELABU (<\/strong>Accipiter griseiceps)<\/em><\/p>\n\n Nama Inggris: Sulawesi Goshawk<\/strong><\/p>\n\n Endemik Sulawesi - Status: resiko rendah (LC)<\/p>\n\n Deskripsi<\/strong><\/p>\n\n Elang-alap kepala-kelabu termasuk satu dari enam jenis kelompok elang-alap di Sulawesi yang masuk dalam suku elang (Accipitridae<\/em>). Sesuai namanya, jenis ini ketika dewasa dapat dikenali dengan kepalanya yang abu-abu. Individu dewasa juga memiliki tubuh bagian atas yang coklat keabu-abuan. Individu muda berwarna sedikit berbeda, yaitu dengan tubuh bagian atas lebih coklat terang dan kepalanya juga coklat. Panjang tubuh individu dewasa sekitar 28-38 cm. <\/p>\n\n Persebaran dan populasi<\/strong><\/p>\n\n Elang-alap kepala-kelabu termasuk endemik Sulawesi dan beberapa pulau satelitnya. Tidak ada informasi mengenai besar maupun kecenderungan populasinya. Di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, jenis ini termasuk elang-alap yang cukup mudah dijumpai, tersebar merata, dan dapat terlihat di semua tipe habitat di dalam kawasan.<\/p>\n\n Habitat dan ekologi<\/strong><\/p>\n\n Elang-alap kepala-kelabu dapat terlihat mulai dari kebun-kebun di pinggir hutan sampai di dalam hutan sekunder dan primer di pegunungan dengan ketinggian 2.000 mdpl. Biasanya mereka akan bertengger tenang di dahan tinggi maupun sedang, sendiri, sambil menunggu mangsa mereka yang umumnya di permukaan tanah seperti mamalia kecil, kadal, bahkan burung lain, atau anak ayam di permukiman manusia.<\/p>\n\n Ancaman<\/strong><\/p>\n\n Secara global, elang-alap kepala-kelabu termasuk dalam kategori resiko rendah (LC – Least Concern<\/em>). Tidak ada kasus terlaporkan jenis ini menjadi obyek perburuan, khususnya di dalam dan sekitar kawasan TN Bogani Nani Wartabone. Secara ekologi, tentu jenis ini penting karena merupakan salah satu predator<\/em> dan pengendali serangga dalam ekosistem hutan dan sekitarnya.<\/p>\n\n Upaya konservasi<\/strong><\/p>\n\n Elang-alap kepala-kelabu termasuk jenis yang dilindungi secara nasional berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya pada P106\/2018. Keberadaan hutan-hutan di Sulawesi yang masih terjaga baik seperti di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, sangat penting untuk membantu menjaga populasi mereka.<\/p>\n\n <\/p>\n\n Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n Foto : Ardin Mokodompit<\/p>\n\n Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n <\/p>\n\n Sumber: Coates & Bishop (1997); https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/22695465\/22770507<\/p>\n\n <\/p>\n\n Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg20bg10bg27bg54bg16bg0.jpg","folder":"20200420102754","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-20 10:27:58"},{"idartikel":"KEU180012020042203510817","judulartikel":"KAREO SULAWESI","isiartikel":" KAREO SULAWESI (<\/strong>Amaurornis isabelinus)<\/em><\/p>\n\n Nama Inggris: Isabelline Waterhen; Isabelline Bush-hen<\/strong><\/p>\n\n Endemik Sulawesi - Status: resiko rendah (LC)<\/p>\n\n Deskripsi<\/strong><\/p>\n\n Kareo sulawesi termasuk burung air, dalam suku Rallidae<\/em> atau mandar. Penampakannya mirip kareo secara umum, dengan warna yang monoton coklat namun paruh yang kuning kehijauan. Kaki sedikit jenjang dengan jari-jari pnajng. Tubuh individu dewasa kareo sulawesi sekitar 35-40 cm, menjadikannya anggota genus Amaurornis<\/em> yang paling besar. <\/p>\n\n Persebaran dan populasi<\/strong><\/p>\n\n Kareo sulawesi endemik Pulau Sulawesi. Tidak ada informasi mengenai besar maupun kecenderungan populasinya. Di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, jenis ini tersebar luas, khususnya di daerah-daerah dekat lahan basah, cukup umum dan mudah dijumpai di beberapa tempat, namun kadangkala sukar dijumpai di tempat lainnya.<\/p>\n\n Habitat dan ekologi<\/strong><\/p>\n\n Sebagai burung air, kareo sulawesi biasa mendiami daerah-daerah lahan basah seperti rawa, daerah hutan hutan sekunder ataupun lahan budidaya masyarakat di sekitar sungai, ataupun daerah di sekitar area-area lahan basah buatan seperti saluran irigasi, bendungan, persawahan, dan sebagainya. Mereka dapat pula dijumpai di antara semak belukar dan alang-alang, walaupun umumnya area tersebut pasti dekat sungai. Mereka tidak dijumpai di tengah hutan,walaupun mereka dapat dijumpai sampai ketinggian 1.400 mdpl. Mereka biasa hidup dan mencari makan menyendiri (soliter) atau berpasangan, walaupun kadangkala dalam suatu tempat yang cocok, mereka dapat dijumpai dalam jumlah banyak. Mereka sangat pemalu dan seringkali terlalu terlihat panik ketika bertemu manusia. Tidak ada catatan mengenai jenis-jenis makanannya secara spesifik.<\/p>\n\n Ancaman<\/strong><\/p>\n\n Secara global, kareo sulawesi termasuk dalam kategori resiko rendah (LC – Least Concern<\/em>). Jenis ini kadangkala tertangkap oleh para pemburu yang menangkap jenis-jenis mandar secara umum di persawahan, untuk dikonsumsi, di sekitar kawasan TN Bogani Nani Wartabone.<\/p>\n\n Upaya konservasi<\/strong><\/p>\n\n Kareo sulawesi tidak termasuk jenis yang dilindungi secara nasional berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya pada P106\/2018. Namun demikian, keberadaan hutan-hutan dan daerah lahan basah di Sulawesi yang masih terjaga baik seperti di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, sangat penting untuk membantu menjaga populasi mereka.<\/p>\n\n <\/p>\n\n Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n Foto : Resort Pinogaluman<\/p>\n\n Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n <\/p>\n\n Sumber: Coates & Bishop (1997); https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/22692624\/23208167<\/p>\n\n <\/p>\n\n Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg22bg03bg51bg08bg17bg0.jpg","folder":"20200422035108","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-22 03:51:12"},{"idartikel":"KEU180012020042203541318","judulartikel":"KEHICAP-RANTING SULAWESI","isiartikel":" KEHICAP-RANTING SULAWESI (<\/strong>Hypothymis puella)<\/em><\/p>\n\n Nama Inggris: Pale-blue Monarch<\/strong><\/p>\n\n Endemik Sulawesi - Status: resiko rendah (LC)<\/p>\n\n Deskripsi<\/strong><\/p>\n\n Kehicap-ranting sulawesi termasuk dalam suku Monarchidae <\/em>atau kelompok burung kehicap dan sikatan. Penampakannya sangat khas dengan warna biru pucat untuk jantan dan sedikit kecoklatan untuk betina. Tubuh individu kehicap-ranting sulawesi dewasa kecil dengan ekor sedikit panjang, total panjang sekitar 15-16 cm. <\/p>\n\n Persebaran dan populasi<\/strong><\/p>\n\n Kehicap-ranting sulawesi endemik Pulau Sulawesi dan beberapa pulau satelitnya, termasuk Kepulauan Sula. Tidak ada informasi mengenai besar populasinya, walaupun diduga kecenderungan populasinya stabil. Di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, jenis ini tersebar luas, sangat umum dan mudah dijumpai hampir di semua tempat.<\/p>\n\n Habitat dan ekologi<\/strong><\/p>\n\n Sebagai burung pemakan serangga, kehicap-ranting sulawesi biasa terlihat berburu serangga kecil seperti kepik, belalalang, dan kumbang, yang mereka tangkap sambil terbang. Mereka umumnya terlihat berpasangan atau bersama-sama dengan para burung pemakan serangga lainnya, berburu serangga pada strata rendah atau sedang di dalam hutan. Kehicap-ranting sulawesi menempati tipe habitat yang sangat luas, mulai dari permukiman yang masih memiliki banyak pohon, kebun dan lahan budidaya masyarakat, hutan sekunder, sampai hutan primer ketinggian 1.200 mdpl. Mereka biasanya tidak terlalu pemalu dan cukup mudah diamati.<\/p>\n\n Ancaman<\/strong><\/p>\n\n Secara global, kehicap-ranting sulawesi termasuk dalam kategori resiko rendah (LC – Least Concern<\/em>). Jenis ini tidak pernah dilaporkan menjadi obyek buruan, khususnya di sekitar kawasan TN Bogani Nani Wartabone. Secara ekologi, tentu jenis ini penting karena merupakan salah satu pengedali hama serangga di sekitar <\/em>hutan.<\/p>\n\n Upaya konservasi<\/strong><\/p>\n\n Kehicap-ranting sulawesi tidak termasuk jenis yang dilindungi secara nasional berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya pada P106\/2018. Namun demikian, keberadaan hutan-hutan di Sulawesi yang masih terjaga baik seperti di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, sangat penting untuk membantu menjaga populasi mereka.<\/p>\n\n <\/p>\n\n Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n Foto : Max Welly Lela<\/p>\n\n Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n <\/p>\n\n Sumber: Coates & Bishop (1997); https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/103715774\/104090891<\/p>\n\n <\/p>\n\n Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n\n <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg22bg03bg54bg13bg18bg0.jpg","folder":"20200422035413","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-22 03:54:13"}],"row":12}